Rebut Kelebihan Puasa Sunat Asyura (10 Muharram)

Advertisements

Keutamaan Hari Asyura (10 Muharram)

Hari Asyura merupakan hari kesepuluh Muharram dan kaum Muslimin disunahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berpuasa.

Ceritanya, pada permulaan hijrah ke Madinah Rasulullah SAW melihat kaum Yahudi melaksanakan puasa tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW bertanya, “Puasa apa ini?”

Para sahabat menjawab, “Ini adalah puasanya Nabi Shaleh AS, juga puasa pada hari di mana Allah SWT menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka sehingga Nabi Musa berpuasa.”

Rasulullah SAW bersabda, “Aku lebih berhak atas Musa daripada mereka (kaum Yahudi), sehingga Rasulullah SAW berpuasa dan menyuruh (kaum Muslimin) berpuasa.” (HR. Bukhari).

Menurut sebagian riwayat, beberapa peristiwa istimewa pada hari Asyura antara lain: diselamatkannya Nabi Nuh AS beserta kaumnya dari banjir bandang yang terjadi pada zamannya dan diselamatkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan paus yang memangsanya.

Rasulullah SAW sendiri telah melaksanakan puasa Asyura bersama kaum Muslimin di Makkah sebelum datangnya kewajiban puasa Ramadhan.

Namun, setelah Allah SWT mewajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah SWT. Barangsiapa yang berkehendak maka ia dapat melakukan puasa atau meninggalkannya (tidak melakukannya).” (HR. Muslim).

Selain kaum Yahudi, kaum jahiliyah di Makkah juga memiliki tradisi puasa Asyura, sehingga puasa Asyura cukup masyhur bagi mereka.

Syariat puasa Asyura kendati boleh dilakukan secara mandiri hanya satu hari tanggal 10 Muharram, namun Jumhur Ulama berpandangan mengenai kesempurnaan puasa tersebut bila digabung dengan puasa Tasu’a (tanggal 9 Muharram).

Hal tersebut karena pada saat Rasulullah bersama sahabat berpuasa Asyura, sebagian sahabat menyatakan hari itu adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani, Rasulullah SAW bersabda, “Insya Allah, pada tahun mendatang kita akan berpuasa yang dimulai dari hari kesembilan Muharram (Tasu’a).”

Namun, sebelum bulan Muharram tahun depan tiba Rasulullah SAW telah wafat, sehingga menurut para ulama, hikmah disunahkannya puasa Tasu’a dengan Asyura adalah untuk membedakan puasa kaum Muslimin dan Kaum Yahudi.

Sejak saat itu, para sahabat dan salafus shaleh mentradisikan puasa Tasu’a dan Asyura yang dilatarbelakangi oleh berbagai keutamaan sebagaimana tersebut di dalam hadis berikut:

Ibnu Abbas RA berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah SAW berniat puasa dan  mengharapkan keutamaan pahala yang utama kecuali pada hari ini, yaitu hari Asyura dan bulan ini (Ramadhan).” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa tiga hari pada setiap bulan dan Ramadan ke Ramadhan adalah puasa satu tahun penuh, puasa Arafah menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang, sedangkan puasa Asyura menghapuskan dosa tahun lalu.” (HR. Muslim).

Adapun kebisaan kaum Muslimin menyantuni anak yatim dan fakir miskin maupun keluarga di bulan Muharram, didasarkan pada hadis Rasulullah SAW, “Barangsiapa meluaskan (perkara) bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah SWT akan meluaskan (perkara) baginya sepanjang tahun.” (HR. Baihaqi).

Demikianlah keutamaan hari Asyura, semoga Allah SWT memberikan kemudahan bagi kita dalam memperbanyak kebajikan dan berpuasa Tasu’a dan Asyura sebagai bentuk kecintaan kita dalam melestarikan sunah Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi

Keutamaan Puasa Asyura dan Sejarahnya

Apa saja keutamaan puasa Asyura dan bagaimanakah sejarahnya?

Sejarah Puasa Asyura

‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharrom[1]. Dia adalah hari yang mulia. Menyimpan sejarah yang mendalam, tak bisa dilupakan.

Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.[2]

Nabi dalam berpuasa ‘Asyura mengalami empat fase[3];

Fase pertama: Beliau berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syuro pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhon telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”.[4]

Fase kedua: Tatkala beliau datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa ‘Asyura, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas di muka. Bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura.

Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhon, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa A’syuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah[5] sebagaimana hadits Aisyah yang telah lalu.

Fase keempat: Pada akhir hayatnya, Nabi bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari A’syuro saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 A’syuro agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.

Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi puasa A’syuro dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro!! Maka Rasululloh berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”.[6]

Keutamaan Puasa Asyura

Hari ‘Asyura adalah hari yang mulia, kedudukannya sangat agung. Ada keutamaan yang sangat besar.

Imam al-Izz bin Abdus Salam berkata: “Keutamaan waktu dan tempat ada dua bentuk; Bentuk pertama adalah bersifat duniawi dan bentuk kedua adalah bersifat agama. Keutamaan yang bersifat agama adalah kembali pada kemurahan Allah untuk para hambanya dengan cara melebihkan pahala bagi yang beramal. Seperti keutamaan puasa Ramadhon atas seluruh puasa pada bulan yang lain, demikian pula seperti hari ‘Asyura. Keutamaan ini kembali pada kemurahan dan kebaikan Allah bagi para hambanya di dalam waktu dan tempat tersebut”.[7] Diantara keutamaan puasa ‘Asyura adalah;

 1- Menghapus dosa satu tahun yang lalu

Rasululloh bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.[8]

Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”.[9]

 2- Nabi sangat bersemangat untuk berpuasa pada hari itu

Ibnu Abbas berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ: يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini, hari ‘Asyura dan puasa bulan Ramadhon.[10]

 3- Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Isroil

Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga”.[11]

 4- Puasa ‘Asyura dahulu diwajibkan

Dahulu puasa ‘Asyura diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Hal ini menujukkan keutamaan puasa ‘Asyura pada awal perkaranya.

Ibnu Umar berkata: “Nabi dahulu puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan”.[12]

 5- Jatuh pada bulan haram

Nabi bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharrom.[13]

Semoga kita diberi kemudahan untuk melaksanakan puasa Asyura. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

[1] Syarah Shahih Muslim 8/12, Fathul Bari, Ibnu Hajar 4/671, Mukhtashor Shahih Muslim, al-Mundziri hal.163, al-Mughni 4/441, Subulus Salam, as-Shon’ani 2/671

[2] HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130

[3] Lathoiful Ma’arif hal.102-107

[4] HR.Bukhari: 2002, Muslim: 1125

[5] Bahkan para ulama telah sepakat bahwa puasa ‘Asyura sekarang hukumnya sunnah tidak wajib. Ijma’at Ibnu Abdil Barr 2/798, Abdullah Mubarak Al Saif, Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani 1/438, Tuhfatul Ahwadzi, Mubarak Fury 3/524, Aunul Ma’bud, Syaroful Haq Azhim Abadi 7/121

[6] HR.Muslim: 1134

[7] Qowaid al-Ahkam, al-‘Izz bin Abdis Salam 1/38, Fadhlu ‘Asyura wa Syahrulloh al-Muharrom, Muhammad as-Sholih hal.3

[8] HR.Muslim: 1162

[9] Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279

[10] HR.Bukhari: 2006, Muslim: 1132

[11] HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130

[12] HR.Bukhari: 1892, Muslim: 1126

[13] HR.Muslim: 1163

Penulis: Ustadz Syahrul Fatwa bin Luqman

Ibnu Abbas sanggup tunggu guru tidur

Oleh Fairuz Noordin

 

Ramai dalam kalangan pemuda berasa tidak perlu menjaga adab terutama dengan guru sedangkan sebagai pelajar, mereka perlu mendidik diri, menjaga adab dan akhlak supaya ilmu diperoleh mendapat keberkatan serta kekal dalam diri.

Rasulullah SAW pernah membaca doa, “Ya Allah, janganlah sampai aku menemui satu zaman ketika manusia tidak lagi mengikuti orang alim sehingga manusia tidak lagi segan pada orang berakhlak baik. Hati mereka seperti hati orang asing dan apabila berbicara seolah-olah ahli agama tetapi hilang akhlak dan adab dalam hidupnya.” (HR Ahmad)

Oleh itu, sewajarnya anak murid memandang guru dengan penuh hormat dan meyakini ilmu gurunya. Ketika Imam Syafie RA menuntut ilmu bersama Imam Malik, beliau tidak berani menyelak helaian kitabnya melainkan dengan cara yang sangat perlahan kerana bimbang bunyi itu mengganggu gurunya. Imam Rabi’ pula tidak berani minum walau seteguk air sekalipun di hadapan Imam Syafie kerana sangat hormat kepada gurunya. Justeru, anak murid perlu belajar merendahkan diri terhadap guru dan mengelakkan perasaan bongkak termasuk serta bercakap dengan sopan santun.

Oleh sebab sifat rendah diri juga, Imam Syafie pernah ditegur gurunya yang sangat dipandang tinggi sehinggakan pernah menulis syair: “Saya sengaja merendahkan diri di hadapan mereka yang dimuliakan kerana ilmu yang ada padanya. Dan mana-mana jiwa yang tidak pernah menghinakan dirinya, dia tidak akan merasakan kemuliaan dalam dirinya.”

Maka kita perlu tawaduk ketika berhadapan dengan guru kerana sekiranya berasa besar diri, ia akan menyebabkan hilangnya kemuliaan dalam diri. Ibnu Abbas RA yang terkenal dengan ketinggian ilmu, sangat berhemah dan cintakan ulama, akan menciumnya kerana sangat menghormati guru.

Ustaz Ahmad Dusuki Abdul Rani menerusi slot Mau’izati di IKIMfm turut berkongsi kisah Imam Ahmad yang berkata kepada Khalaf al-Ahmar, “Saya tidak akan duduk melainkan di samping kamu dan beginilah yang diajar kepada kami untuk menghormati guru.”

Ketahui hak guru

Perkara lain perlu diberi perhatian ialah mengetahui hak guru. Murid tidak boleh melupakan budi pekerti dan jasa gurunya seperti perilaku Imam Syu’bah terhadap gurunya hingga beliau berkata: “Apabila saya belajar dengan guru, saya akan menjadi hamba kepada mereka selagi mereka hidup.” Ini antara contoh bagaimana murid menghargai ilmu yang sangat bernilai dan meraikan jasa guru.

Selain itu, doakan guru agar dipanjangkan usia dan diberikan perkara baik. Sesungguhnya setiap doa baik yang ditujukan kepada guru akan kembali memberi kesan baik kepada murid kerana 10 kebaikan didoakan kepada orang lain, Allah akan menganjari 100 kebaikan. Malah, jika didoakan keburukan sekalipun, Allah akan membalas bertimpa-timpa keburukan terhadap pemohon doa terbabit. Doa buruk kepada orang alim juga mendatangkan akibat buruk seperti dalam hadis Qudsi, Rasulullah bersabda: “Sesiapa melakukan khianat kepada waliku, akan aku isytiharkan perang kepada orang sedemikian rupa.”

Adab yang perlu dijaga juga ialah belajar untuk bersabar dengan ketegasan mereka yang mempunyai kerenah dan sikap seperti meninggikan suara dan menengking. Ibu bapa perlu berpesan kepada anak yang sedang menuntut ilmu agar sabar menghadapi kerenah guru kerana alim ulama turut menghadapi situasi sama ketika berguru.

Ketegasan guru mampu mendidik anak murid agar menjadi orang berguna dan menjadi contoh terbaik pada masa depan. Sebahagian ilmuwan berkongsi pengalaman menghadapi ketegasan guru dan menyedari tanpanya, mereka akan kekal dalam kejahilan. Malah sesiapa menuntut ilmu akan dijanjikan Allah dengan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Imam Syafie pernah berkata kepada Sufyan Uyainah: “Begitu ramai yang datang menuntut ilmu denganmu tetapi sering kali kamu bersikap garang dengan mereka.” Sufyan menjawab, “Mereka adalah manusia bodoh sekiranya mereka meninggalkan apa yang memberi manfaat disebabkan perilaku burukku terhadap mereka.”

Bersopanlah ketika berada dalam majlis ilmu bersama guru, jagalah diri agar tidak mengganggu pandangan mereka atau leka melakukan perkara lain yang melalaikan serta menghalang proses pembelajaran. Sewajarnya mohon izin terlebih dulu untuk berada dalam majlis ilmu yang dikendalikan guru seperti yang dilakukan Ibnu Abbas sewaktu ingin menuntut ilmu bersama Zaid. Beliau sanggup menunggu di hadapan rumah gurunya apabila diberitahu gurunya sedang tidur. Ibnu Abbas tidak mahu gurunya diganggu dan lebih sanggup menunggu Zaid bangun untuk menuntut ilmu sehingga terbit matahari.

Ini menunjukkan kesabaran Ibnu Abbas dan sifat yang sangat mementingkan adab serta akhlak kepada guru. Seorang pelajar perlu memberi perhatian sepenuhnya terhadap setiap perkara disampaikan guru sekalipun pernah didengar kerana ia antara adab perlu dijaga ketika menimba ilmu.

Kelebihan Puasa hari Arafah

Kita juga jangan lepaskan peluang untuk merebut kelebihan puasa pada hari Arafah iaitu hari kesembilan daripada bulan Zulhijjah yang bakal tiba

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : …. صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ”  – رواه مسلم

Maksudnya : …… Sedangkan puasa hari Arafah pahalanya di sisi Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Adapun puasa hari Asyura, pahalanya di sisi Allah dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya

Doa terbaik Hari Arafah

Banyakkan berdoa pada hari Arafah antaranya :

لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sabda nabi s.a.w dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmizi:

” خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “

Maksudnya : Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La Ilaaha IllAllah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qadir

 

Di Hari Arafah ini Allah paling banyak membebaskan manusia dari Neraka.
Rasulullah bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari Neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: apa yang mereka inginkan?” (HR. Musim, no.1348)

 

Hukum ibadat korban dan hikmatnya

Terdapat banyak hadis yang menganjurkan ibadat korban antaranyab di mana Rasulullah s.a.w. bersabda;

مَاعَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى الله عَزَّ وَجَلَّ مِنْ إِهْرَاقَةِ دَمٍ. وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا. وإِنَّ الدم لَيَقَعُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ، قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ. فَطِيبُوا بِهَا نَفْساً

“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh manusia pada hari raya korban yang lebih disukai Allah dari mengalirkan darah (yakni menyembelih korban). Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti dengan tanduk-tanduknya, kuku-kuku dan bulu-bulunya (dan diletakkan di atas timbangan). Dan sesungguhnya darah binatang korban itu mendapat kedudukan di sisi Allah di suatu tempat yang tinggi sebelum ia jatuh di atas bumi.[1] Oleh itu, ikhlaskanlah hati kamu ketika berkorban itu”. (Riwayat Imam at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Saidatina ‘Aisyah r.a.. Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini adalah hasan. Lihat; al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 7949.)

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّناَ – رواية ابن ماجه

Maksudnya : Sesiapa yang mempunyai kemampuan sedangkan dia tidak melakukan ibadat korban maka janganlah dia mendekati tempat solat kami

Hukum ibadat korban

Hukum korban ialah sunat muakkad (iaitu sunat yang amat-amat digalakkan oleh agama) bagi orang yang memenuhi syarat-syarat berikut;[2]

1. Muslim

2. Baligh dan berakal

3. Bebas/merdeka

4. Ada kemampuan; iaitu memiliki lebihan belanja setelah ditolak nafkah dirinya dan orang-orang di bawah tanggungannya merangkumi makanan, pakaian dan tempat tinggal sepanjang hari raya dan hari-hari tasyriq.

Ibadah ini terbuka kepada semua orang Islam yang memiliki kelapangan atau kemampuan sama ada orang badar atau orang kampung/pedalaman, orang dalam musafir atau berada dalam negeri dan termasuklah kepada jamaah haji di Mina.[3] Terdapat riwayat dalam Soheh Imam Bukhari dan Muslim yang menceritakan bahawa Nabi s.a.w. melakukan korban di Mina bagi isteri baginda dengan menyembelih lembu. (Riwayat dari Saidatina Aisyah r.a.)[4]

Dimakruhkan meninggalkan ibadah korban ini bagi orang yang memenuhi syarat-syarat di atas. Berkata Imam as-Syafi’ie; “Aku tidak memberi rukhsah untuk meninggalkannya bagi sesiapa yang mampu melakukannya” (yakni Imam Syafi’ie memandang makruh meninggalkannya bagi orang yang mampu).[5]

Manakala di antara hikmat dari pensyariatan ibadah korban itu pula ialah :

Pertama : Untuk mengekalkan ingatan kita kepada kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang sanggup menyembelih puteranya Nabi Ismail Alaihissalam sebagai korban, akan tetapi Allah menggantikannya dengan seekor kibasy. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah daripada Zaid bin Arqam, dia berkata : Para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bertanya, wahai Rasulullah, apakah yang ada pada korban itu? Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menjawab dengan sabdanya maksudnya :

“Ia adalah sunnah bapa kamu Ibrahim. Mereka bertanya lagi : Apa yang akan kami perolehi daripadanya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : Bagi setiap helai rambut ada kebajikannya. Mereka bertanya lagi : Bagaimana pula dengan bulunya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : Bagi setiap helai bulu ada kebajikannya”.

Kedua : Melatih dan membentuk kaum Muslimin supaya sanggup berkorban sebahagian rezeki dan nikmat kurniaan Allah demi kepentingan orang lain.

Ketiga : Memupuk sikap pemeduliaan dan prihatin terhadap masyarakat iaitu dengan mengagihkan sebahagian daging korban itu sebagai makanan atau meluaskan rezeki orang-orang fakir miskin sempena Hari Raya Aidiladha.

Keempat : Menyemai dan menanamkan sifat terpuji dan nilai-nilai murni ke dalam diri dengan meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam dan sifat keduanya yang mengutamakan ketaatan dan rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Nota kaki:

[1] Maksudnya menurut Imam al-Minawi; “binatang korban itu berada di tempat penerimaan yang tinggi iaitu ia diterima oleh Allah sejak mula diniatkan untuk dikorbankan sebelum ia disaksikan oleh orang-orang yang hadir ketika ia disembelih”. (Lihat; Faidhul-Qadier, hadis no. 7949)

[2] Al-Iqna’, jil. 2, hlm. 816. Kifayatul-Akhyar, hlm. 528. al-Fiqhul-Manhaji, jil. 1, hlm. 233.

[3] Al-Majmu’, jil. 8, hlm. 276.

[4] Lihat; Soheh al-Bukhari, kitab al-Adhahi.