• Pengenalan

    Blog ini dikendalikan oleh pihak pengurusan pondok sebagai alternatif kepada portal rasmi madrasah
    albakriah.com

  • Sumbangan Derma

    Kami sentiasa mengalu-alukan sebarang sumbangan berbentuk zakat dan sedekah bagi tujuan kebajikan guru, pelajar dan pembangunan

    Sebarang sumbangan boleh disalurkan melalui akaun tersebut

    Tabung Madrasah Diniah Bakriah
    BIMB 03018010098410

     

  • Kandungan Blog

  • Tulisan Terbaik

  • Arkib

  • Statistik Pengunjung

    • 1,252,915 orang
  • Kandungan Blog

Aturcara Ijtimak Pondok Kelantan Sabtu ini 2 Julai

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.

“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“.

2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah. Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya.

Disebutkan dalam hadist Qudsi : الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

“Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun“. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya.

Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan : الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah. وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].

. 4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa. Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

5. Banyak Beramal Shalih. Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq. Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung.

Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu“. [Muttafaqun ‘Alaihi].

8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya“.

Dalam riwayat lain : فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“. Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya.

Firman Allah. وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya. Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas. Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya. Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya

. والله الموفق والهادي إلى سواء السبيل وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم .

Hina Nabi SAW modal orang muflis

Dr Mohd Khafidz Soroni

Bahang kemarahan umat Islam terhadap perbuatan seorang jurucakap pemimpin sebuah parti politik di India menghina Nabi SAW masih belum reda. Kemarahan ini tentu sahaja wajar kerana perbuatannya itu mencalar peribadi agung Nabi SAW yang cukup besar kedudukannya dalam jiwa umat Islam. Maka, sebarang perbuatan biadab terhadap baginda pasti tidak dapat diterima. Penghinaan terhadap Nabi SAW sebenarnya bererti penghinaan terhadap syariat Allah SWT kerana Dia-lah yang memilih baginda untuk umat manusia.

Nabi SAW sendiri mencontohkan agar umatnya perlu bersikap tegas dan berasa marah kerana Allah jika syariat-Nya dilanggar, apatah lagi dicemuh dan dihina. Daripada Aisyah RA, katanya: “Tidaklah sesekali Rasulullah SAW diberi pilihan antara dua perkara melainkan baginda akan memilih perkara yang lebih mudah selama perkara itu tidak mengandungi dosa. Jika perkara itu mengandungi dosa, maka baginda adalah orang yang paling menjauhkan diri daripadanya. Dan tidaklah Rasulullah SAW marah untuk dirinya terhadap suatu perkara melainkan jika larangan Allah dilanggar, maka baginda akan marah kerana Allah disebabkannya.” Riwayat al-Bukhari dan Muslim

Orang yang tidak mempunyai rasa marah di dalam hati apabila syariat Allah dan Nabi-Nya dihina, tentu ada masalah besar dengan dirinya, sama ada dia benar-benar sangat jahil atau memang tiada langsung rasa iman di dalam hati. Walhal, rasa marah itu adalah wajar.

Namun, kemarahan itu perlu ditangani dengan bijak agar kita tidak pula melakukan perkara yang tak sepatutnya serta dilarang oleh syarak. Seperti apabila Nabi SAW kita dihina, lalu sebagai balasannya kita menghina pula tokoh ikutan atau entiti sembahan pihak yang menghina. Perkara seumpama ini adalah ditegah sepertimana firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu cerca benda yang mereka sembah yang lain daripada Allah kerana mereka kelak akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan. Demikianlah Kami memperelokkan pada pandangan tiap-tiap umat akan amal perbuatan mereka, kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia menerangkan kepada mereka apa yang mereka lakukan.” Surah al-An’am: 108

Penghinaan terhadap Nabi SAW bukanlah perkara baharu. Sebelumnya pun sudah banyak penghinaan terhadap baginda SAW melalui filem, teater, novel, karikatur, ucapan dan sebagainya. Malah perbincangan ulama silam tentang hukum orang yang menghina Nabi SAW menunjukkan bahawa isu berkenaan sudah terjadi sejak dahulu. Antara kitab khusus yang membahaskan isu ini ialah kitab as-Saif al-Maslul ‘ala Man Sabb ar-Rasul oleh Imam Taqiyyuddin as-Subki (wafat 756H), kitab as-Sorim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rasul oleh Syeikh Ibn Taimiyyah (wafat 728H) dan as-Saif al-Battar liMan Sabb an-Nabi al-Mukhtar oleh Sayyidi Abdullah al-Ghumari (wafat 1413H). Hakikatnya siri penghinaan kepada baginda SAW sudah berlaku sejak baginda masih hidup oleh orang yang memusuhinya. Padahal perbuatan menghina ini sebenarnya tidak menguntungkan orang yang menghina, bahkan akan merugikannya baik di dunia mahupun di akhirat. Kemungkinan perbuatan itu hanya memuaskan hawa nafsunya buat sementara waktu, namun maruah dirinya akan kekal dipandang hina kerana kerendahan nilai moralnya. Malah, namanya akan terus dibenci orang walaupun sesudah dia mati. Ini baru mengikut hukum dunia, belum lagi hukum akhirat yang akan diterimanya kelak.

Contohnya, perbuatan Abu Lahab yang gemar mencemuh dan menghina Nabi SAW sehingga penghinaannya dijawab sendiri oleh Allah SWT, malah dirakamkan namanya secara abadi dalam al-Quran sebagai peringatan buat umat manusia, iaitu firman-Nya: “Binasalah kedua-dua tangan Abu Lahab dan binasalah ia bersama. Hartanya dan segala yang diusahakannya tidak dapat menolongnya. Dia akan menderita bakaran api neraka yang marak menjulang.” Surah al-Masad: 1-3

Ketahuilah bahawa perbuatan menghina ini hanya dilakukan oleh orang yang sudah tiada modal dan muflis hujah. Lalu, hanya untuk memuaskan hawa nafsunya dia memaksa diri melakukan tindakan yang melampui batas tanpa memikirkan akibatnya.

Kita percaya setiap agama tidak mengajar penganutnya bertindak melampaui batas dan biadab terhadap penganut agama lain. Sebaliknya, diri penganut agama itu sendiri yang bersikap ekstrem dan melampaui batas. Kita tidak nafikan golongan seperti ini ada dalam setiap agama, bahkan agama Islam pun. Bagaimanapun, Nabi SAW menegah umatnya daripada bersikap melampau dan bertindak ekstrem. Daripada Ibnu Mas’ud RA katanya: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Binasalah orang yang suka melampaui batas.’ Baginda mengucapkan perkataan ini sebanyak tiga kali.” Riwayat Muslim