Artikel Puasa dan Ramadhan

Bayar Fidyah Tinggal Puasa

Tips didik anak berpuasa

Kelebihan menjamu orang berbuka puasa

Bezanya Puasa Dengan Ibadat Lain

5 perkara rosakkan pahala puasa

Fadilat Ramadan & Hikmah Berpuasa

10 Keutamaan orang berpuasa

Perkara yang harus dilakukan bila batal puasa

Adab berpuasa dan solat terawih

Kewajiban-kewajiban lahiriah puasa

Rahsia puasa kita diterima

Hikmah puasa dari aspek kesihatan

Rahsia-rahsia puasa dan syarat-syarat kebatinannya

Sunat-sunat dalam ibadat puasa

3 bentuk ganjaran kesempurnaan puasa

3 Tingkatan Orang Berpuasa

Nikmat ibadat puasa

Rahsia ibadat puasa

7 Tips seronok sambut Ramadhan

Amalan Pilihan Sepanjang Ramadhan

Berseronoklah menghidupkan Ramadhan

11 Amalan terbaik sepanjang Ramadhan

KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

Cara Salafussoleh hidupkan Ramadhan

Pengajian Kitab Intensif Sempena Ramadhan 1436H

POSTER AKEDEMI PONDOK

Tips meriahkan sambutan Ramadhan

Firman Allah dalam ayat 183 surah al-Baqarah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣

Maksudnya : Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa

Antara persiapan awal kita dalam menyambut Ramadhan ialah :

[1] Banyak berdoa kepada Allah sebagaimana yang dilakukan oleh salafussoleh di mana mereka berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya dan selama 6 bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah kerana dapat berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah

[2] Mengqada’ puasa yang telah ditinggal bagi yang belum lagi menyelesaikannya

[3] mempersiapkan diri dengan ilmu terutama berkaitan ibadat puasa di mana Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, kerana mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Ini kerana, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perosak-perosak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”

[4] Persiapan rohani dengan penyucian jiwa agar kelazatan ibadat puasa benar-benar terasa bukan setakat hanya puasa adat yang tiada pahala

[5] Persiapan kebendaan terutama kewangan bagi memudahkan untuk menambah pahala bersedekah di bulan Ramadhan nanti

[6] Persiapan dari segi jasmani dengan kesihatan tubuh badan kerana kita lebih seronok dan selesa menjalani ibadat puasa dengan keadaan tubuh yang sihat

[7] Mengadakan majlis ilmu, mengedar bahan bacaan serta banyak mengucapkan ucapan kegembiraan dengan kedatangan Ramadhan. Wujudkan suasana yang meriah dalam menanti kedatangan Ramadhan kerana nabi s.a.w apabila menjelang Ramadhan akan memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para sahabat. Baginda  juga memberi khabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya dan janji Allah tentang keistimewaannya

Semoga kita semua dipanjangkan umur oleh Allah untuk sama-sama menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini. Semoga Allah memberi kekuatan rohani dan jasmani dalam meningkatkan lahi kuantiti dan kualiti ibadat kita sempena Ramadhan sehingga lahir sebagai umat yang bertaqwa

Gempa Bumi zaman Rasulullah s.a.w dan Sahabat

Oleh: traveller06

Setidaknya dua kali gempa tercatat dalam riwayat hadits Nabi. Yang pertama di Mekah. Dan kedua di Madinah.
Pertama,Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata,

Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”

Kedua, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata:
“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”


Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahwa ternyata gunung tidak layak berguncang saat ada 4 manusia terbaik ada di atasnya. Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung untuk menghentikan guncangan tersebut.

Di sinilah pelajaran besarnya bagi kita sebagai analisa pertama tentang gempa. Bahwa keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat membuat bumi tidak layak berguncang. Kriteria keshalehan sangat spesifik disebutkan dalam riwayat tersebut. Untuk kita, hanya tinggal dua pilihan mengingat sudah tidak ada lagi nabi. Yaitu: Shiddiq. Kriteria utama Abu Bakar adalah beriman tanpa ada rasa keraguan sedikit pun. Dan Syahid. Mereka yang meninggal fi sabilillah.
Jika manusia dengan dua kriteria itu masih banyak yang hidup di atas bumi, maka bumi tidak layak gempa. Sebaliknya, gempa terjadi manakala bumi telah sepi dari keberadaan orang-orang dengan keimanan tanpa ada kabut keraguan dan orang-orang yang meninggal fi sabilillah.
Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat,
“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”
Gempa di Mata Umar bin Khattab radhiallahu anhu
Gempa juga tercatat pernah terjadi di Masa kekhilafahan Umar, sebagaimana yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,
“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”
Kembali, generasi terbaik itu mengajarkan ilmu mulia bahwa gempa terjadi karena dosa yang dilakukan oleh masyarakat. Umar dengan tegas menyatakan itu. Lebih tegas lagi saat dia bersumpah bahwa jika terjadi gempa susulan, Umar akan meninggalkan Madinah. Karena itu artinya dosa kembali dikerjakan dan tidak kunjung ditaubati.

Gempa di Mata Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu
Shahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattabh. Inilah pernyataan lengkapnya tentang gempa,
“Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla melihatnya.”
Ka’ab menyebut bahwa guncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya.
Gempa di Mata Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha
Inilah pelajaran yang diberikan oleh guru besar para shahabat dan tabi’in sepeninggal Nabi selama 47 tahun; Aisyah istri Nabi, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Jawabul Kafi.
Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa.

Aisyah menjelaskan,
“Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka

 

Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?
Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”
Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.
Sangat gamblang dan jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab spiritual gempa. Tiga dosa yang semuanya marak di zaman kita ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah[perkare biase]. Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat bisa dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.
Inilah Kesimpulannya…
Dari semua pernyataan hamba-hamba terbaik Allah di muka bumi ini tentang gempa, ternyata penyebab spiritual gempa adalah sebagai berikut:
1. Sedikitnya orang-orang shiddiq [jujur dan amanah ] dan syahid yang tinggal di atas muka bumi
2. Masyarakat telah menghalalkan zina
3. Masyarakat telah mengkonsumsi khamar (narkoba)
4. Masyarakat telah memainkan muzik tanpa memikirkan larangan ALLah
Dan Inilah 4 Solusi dari Khalifah Adil…
Umar bin Abdul Aziz yang memerintah tahun 99 H – 101 H dengan prestasi fantastik dalam memakmurkan masyarakatnya hanya dalam 29 itu memberikan solusi terhadap gempa. Hal ini berawal dari gempa yang terjadi di zaman pemerintahannya. Selepas gempa mengguncang, Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat instruksi kepada semua jajaran pejabatnya di seluruh negeri kekuasaannya. Dan inilah instruksinya,
“Gempa ini adalah sesuatu yang Allah azza wajalla gunakan untuk menegur hamba-hamba-Nya. Saya telah menulis perintah ke seluruh wilayah agar mereka keluar pada hari yang telah ditentukan pada bulan yang telah ditentukan, siapa yang mempunyai sesuatu maka bershadaqahlah karena Allah berfirman,
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. (Qs. Al-A’la: 14-15)
Dan katakanlah sebagaimana Adam berkata,
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 23)
Dan katakanlah sebagaimana Nuh berkata,
“Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Hud: 47)
Dan katakanlah sebagaimana Yunus berkata,
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Anbiya’: 87)

Akademi Pondok Sempena Ramadhan 1436H di Pondok Pasir Tumboh

Sempena kedatangan bulan Ramadhan al-Mubarak 1436H maka pihak Pondok Pasir Tumboh akan mengadakan suatu program ilmu tahunan bagi menghayati bulan yang penuh keberkatan itu. Program ini bertujuan memberi peluang kepada seluruh umat Islam samada dalam negeri atau luar Kelantan untuk mendalami ilmu agama sepanjang bulan Ramadhan. Ini merupakan program untuk tahun ke-7 setelah program yang sama pada tahun-tahun sebelum ini  berjaya diadakan dengan sambutan menggalakkan daripada peserta dalam dan luar Kelantan terutama siswa/wi yang sedang cuti semester.

Sebarang maklumat lanjut berkenaan program ini bolehlah menghubungi Ustaz Ahmad Shairazi di talian
09-7657786 / 019-9388902

Pendaftaran dibuka sepanjang masa

Pengajian secara berulang alik atau menginap di pondok

Syarat & Yuran Penyertaan

  • Terbuka kepada seluruh muslimin dan muslimat tanpa had umur
  • Pendaftaran RM 5 sahaja (tanpa kitab) dengan berulang-alik setiap hari
  • Harga Kitab Majmu’ Thalatha Rasail Edisi jawi  RM 4.00
  • Harga kitab Hidayah Salikin edisi jawi RM4.00
  • Harga Kitab Misbahul Munir edisi jawi RM3.00
  • Bagi peserta muslimin yang ingin menetap di pondok yuran daftar RM20.00 dan bil elektrik RM10.00. Datang daftar mulai 3 Ramadhan nanti
  • Perbelanjaan makan minum tanggungan sendiri (majlis berbuka puasa disediakan di Masjid pondok setiap petang manakala pelajar muslimat bujang makanan berbuka disedia di madrasah tempat mereka menginap)
  • Bagi muslimat yang ingin tinggal kawasan pondok yuran daftar, tempat tinggal dan bil elektrik RM58.00. Sila hubungi Ustazah Fadhilah (0145429086)
  • Bagi pasangan kelamin atau warga emas kena cari pondok atau bilik sewa sendiri jika mahu tinggal kawasan pondok kerana pihak pejabat tidak menguruskan urusan tersebut

Tarikh & Masa Mula Daftar Diri

Mulai 3 Ramadhan 1436H bersamaan 20 Jun 2015M (Sabtu)
jam 8.30 pagi

Kelengkapan peribadi

 

sila bawa perkara tersebut :

1. Pelajar lelaki kena bawa Jubah sekurang sehelai(jika ada) / banyakkan baju melayu n kain atau kemeja lengan panjang
2. Pelajar perempuan kena bawa Jubah
2. Pakaian tidur/selimut/toto@tilam/bantal
3. alat tulis
4. Fotostat kad pengenalan
5. Gambar ukuran passport sekeping

 

JADUAL AKADEMI PONDOK 1436H

TARIKH Masa Kitab

Mulai

9.00– 11.30 am Kitab : Thalatha Rasail

20 Jun 2015M

3 Ramadhan 1436H

 2.00 – 3.00 pm  Kitab : Hidayah Salikin
hingga 12 Julai 2015M bersamaan 25 Ramadhan 1436H 3.30 – 4.30 pm Kitab : Misbahul Munir

Setiap Jumaat cuti

# Kitab Thalathah Rasil melibatkan beberapa bab daripada ilmu Feqah

# Kitab Hidayah Salikin pula menyentuh ilmu tasawwuf

# Kitab Misbahul Munir berkenaan ilmu Tauhid

Tempat Program

Madrasah Diniah Bakriah,
Pondok Pasir 
Tumboh,

16150, Kota Bharu, Kelantan

Hubungi :

Tel :09-7657786 H/P :019-9388902

(Ust. Ahmad Shairazi )

Jauhi Maksiat Batin

Oleh Zawawi Yusoh

 

“BANYAK konflik berlaku, sudah hendak kiamatlah,” kata seorang teman kepada penulis pada suatu pagi di kedai mamak.

Semua tidak kena satu pihak salahkan pihak yang lain begitulah sebaliknya.
Pembaca sekalian, adakah anda sedang berkonflik atau mungkin mengharunginya dengan perasaan yang melukakan?

Terdapat banyak punca berlaku konflik, antaranya sifat hati yang kotor. Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: “Dalam hati manusia ada seketul daging, jika baik dia maka baiklah yang lain, jika rosak daging ini maka akan rosaklah anggota lain, daging seketul itu adalah hati.”

Hati kotor ini akan berjangkit dalam bentuk emosi yang akhirnya akan melakukan tindakan tidak rasional. Inilah yang dinamakan dengan maksiat batin. Di sini timbul seribu satu perangai negatif yang akhirnya akan menjurus kepada berlakunya konflik.

Antara maksiat batin itu seperti:

1) Maksiat perut iaitu seseorang itu terlalu banyak makan makanan yang tidak halal atau haram seperti meminum arak dan makanan yang dimakan dari punca rezeki yang tidak halal.

2) Maksiat mata iaitu seseorang yang suka melihat kepada bahan lucah dan haram.

3) Maksiat lidah yakni bercakap perkara-perkara yang tidak elok seperti mengumpat dan memfitnah.

4) Maksiat faraj bermaksud melakukan hubungan jenis di luar nikah dan lain-lain perhubungan jenis yang tidak dibenarkan.

5) Maksiat tangan yang bermaksud mencuri harta orang lain, menyeleweng kuasa yang diamanahkan dan juga mendapatkan harta secara haram.

6) Maksiat kaki bermaksud sentiasa mengunjungi ke tempat maksiat seperti ke kelab malam, tempat pelacuran dan tempat perjudian.

7) Maksiat telinga bermaksud mendengar perkara-perkara yang tidak elok seperti mendengar orang sedang mengumpat, memfitnah dan memburuk-burukkan orang lain.

Maksiat batin ini seterusnya akan berjangkit pula ke arah maksiat zahir, antaranya:

  • Bercakap banyak
  • Suka marah-marah
  • Berhasad dengki
  • Bakhil
  • Suka bermegah-megah
  • Sombong dan takbur dengan diri sendiri
  • Cintakan dunia
  • Suka memfitnah
  • Ujub iaitu menyangka dirinya terlalu sempurna
  • Riak iaitu perbuatan yang dilakukan semata-mata kerana terlalu inginkan pujian dan sanjungan dari orang lain.Apabila seseorang Islam itu melakukan maksiat yang dinyatakan di atas, maka akan bertambahlah titik dosa dalam dirinya yang menjadikan dirinya mengalami lebih konflik.Bagi mengatasi masalah dan konflik itu mestilah berbalik kepada Islam dengan menghayati hak orang lain seperti mengawal hati dengan ibadat khusus serta sunat dalam ibadat umum. Mesti merasai roh ukhuwah yang mendalam dengan ikatan akidah yang kuat serta percaya kepada hari akhirat.

    Segala perbuatan yang dikira itu akan merendahkan keegoan yang bersarang dalam nafsu kita dan Insya-Allah akan mengurangkan konflik.

Karamah pendamping al-Quran

Oleh DR. KHAIRUL ANUAR MOHAMAD

 

PEMBACA al-Quran atau dalam bahasa dikenali sebagai qurra mempunyai banyak kelebihan. Selain pahala yang berlipat ganda, mereka juga mendapat ketenangan jiwa dan rasa damai. Berapa ramai orang yang menghadapi masalah yang berkaitan keluarga, kewangan dan lain-lain dapat mengatasinya dengan membaca al-Quran.

Jika melihat lembaran sejarah, guru al-Quran yang berkhidmat mengajar dan hidup bersama al-Quran telah diberikan anugerah yang tidak terlintas pada akal manusia biasa. Istilah yang sesuai digunakan untuk perkara seperti itu ialah karamah.

Karamah daripada sudut bahasa adalah kemuliaan. Istilahnya ialah sesuatu perkara luar biasa yang berlaku daripada keikhlasan seorang hamba yang telah jelas kebaikannya kerana ketekunan di dalam mengikuti syariat nabi dan mempunyai akidah yang benar.

Apa yang ingin dibawakan dalam perbincangan ini ialah anugerah dan kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya yang selalu berdampingan dengan al-Quran. Cerita yang pelik ajaib berkaitan qurra sebenarnya banyak dicatat oleh Imam Ibnu al-Jazari melalui beberapa penulisannya antaranya Ghayah al-Nihayah fi Tabaqat al-Qurra.

 

Berbau wangi

 

Sebagai permulaan, saya membawa satu kisah berkaitan seorang guru Quran terkenal di Madinah al-Munawarrah iaitu Imam Nafei’ al-Madani. Selain mengajar al-Quran beliau juga adalah imam di Masjid Nabi selama 70 tahun. Sumbanganya cukup besar dan salah seorang muridnya ialah Imam Malik Ibnu Anas pengasas mazhab Maliki.

Karamah atau kemuliaan yang Allah SWT berikan kepadanya ialah mulutnya sentiasa berbau wangi sehingga mereka yang berada di sekelilingnya merasakan Imam Nafei’ memakai wangian sebelum sesi pengajaran. Lantas beberapa muridnya bertanya soalan dan beliau menjawab: “Aku tidak pernah menyentuh wangian tetapi aku melihat Rasulullah SAW dalam mimpiku membaca al-Quran dan menghembus ke arah mulutku. Semenjak itu mulutku berbau wangi.”

 

Buta tapi terang hati

 

Perkara pelik sebegitu tidak boleh berlaku kepada kebanyakan orang walaupun mereka berusaha mendapatnya, tetapi ia anugerah Allah SWT.

Bagi Imam Syatibiy yang meninggal pada 590 Hijrah, walaupun beliau adalah seorang yang cacat penglihatan tetapi hatinya begitu terang dan bersih. Hatinya mampu melihat apa yang tidak nampak oleh mata.

Setiap hari Imam Syatibiy mengajar al-Quran. Ramai yang datang untuk bertalaqqi dan musyafahah dengan beliau. Memandang kepada ramainya yang datang, Imam Syatibiy menggunakan kaedah sesiapa yang datang awal, dialah orang yang pertama membaca. Setiap kali sesi pengajarannya, beliau akan menyebut perkara itu.

Terjadi kisah seorang pelajar yang ingin menjadi orang pertama membaca di hadapan Imam Syatibiy. Tetapi beliau telah berhadas di waktu malamnya. Dek ingin membaca tempat yang pertama, pelajar tersebut terlupa untuk mengangkat hadasnya. Ketika Imam Syatibiy mengambil tempatnya untuk memulakan sesi pengajaran Imam Syatibiy mengubah skrip yang selalu diucap sebelum pengajaran dengan berkata siapa yang datang kedua membaca dahulu.

Si lelaki yang datang pertama merasa pelik dengan arahan Imam Syatibiy dan melakukan muhasabah apakah dosa yang telah dilakukan sehingga gurunya tidak menyuruhnya membaca dahulu. Lantas beliau teringat peristiwa semalam dan bergegas pergi mengangkat hadas.

Selepas siap semuanya, Imam Syatibiy pun berkata siapa yang datang pertama membaca dahulu. Lihat bagaimana karamah atau kemuliaan yang Allah berikan kepada Imam Syatibiy yang boleh merasakan di hadapannya orang berhadas yang tidak boleh membaca al-Quran.

 

Kehebatan tersendiri

 

Cerita karamah sebegini adalah untuk memberi maklum kepada kita bahawa al-Quran adalah kalam Allah SWT yang mempunyai kehebatannya yang tersendiri. Mereka yang memahaminya dan berkhidmat untuknya diberikan kelebihan. Namun begitu mereka yang tidak diberi karamah walaupun banyak membaca al-Quran sebenarnya tersilap tafsir.

Hakikatnyanya membaca al-Quran itu adalah satu ibadat yang besar nilainya dan perlu selalu berdoa semoga Allah SWT sentiasa memberikan masa yang cukup untuk membaca al-Quran pada siang dan malam hari. Sebagaiman doa yang selalu dinasyidkan: “Ya Allah kurniakanlah kepada kami untuk membaca al-Quran sepanjang malam dan siang, Amin ya rab al-Alamin

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 17,516 other followers